Sumbardaily.com - Penanganan bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat menjadi salah satu perhatian dalam Musyawarah Daerah (Musda) V Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Sumatera Barat (Pengda Sumbar).
Selain menggelar talkshow kebencanaan dan pasca bencana, IJTI Sumbar menyiapkan pemberian penghargaan kepada sejumlah lembaga yang dinilai inspiratif dalam penanganan bencana periode 2025-2026.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 23-25 Oktober 2026 di Kota Padang tersebut juga menghadirkan penghargaan untuk rumah sakit yang menggunakan teknologi robotik dalam penanganan pasien.
Dalam rangkaian Musda V IJTI Pengda Sumbar, penghargaan diberikan kepada sejumlah tokoh dari berbagai bidang, mulai dari pelayanan kesehatan, penanggulangan bencana hidrometeorologi, pemerintahan, akademisi, hingga jurnalisme televisi.
Dari sektor kesehatan, RSU Bunda BMC Padang diwakili oleh dr Dedi Hendri, SpOG-KFER. Penghargaan ini berkaitan dengan pengembangan teknologi bedah robotik melalui tema New Era of Surgery: Precision Surgery with Robotic Gynecology Surgery di Advance Robotic & Minimally Invasive Surgery Center, Bunda Hospital.
Di bidang penanggulangan bencana hidrometeorologi periode 2025-2026, PT Semen Padang diwakili oleh Hernes. Penghargaan tersebut berkaitan dengan peran perusahaan dalam penanggulangan bencana hidrometeorologi pada periode tersebut.
Selain itu, PT Supreme Energy Muara Laboh diwakili oleh Bujang Joan. Penghargaan ini mengangkat kontribusi melalui pendekatan partisipasi aktif dalam penanggulangan bencana hidrometeorologi 2025-2026 di Pulau Sumatera.
Dari unsur pemerintahan, penghargaan diberikan kepada Wali Kota Pariaman Yota Balad dan Wakil Bupati (Wabup) Padang Pariaman Rahmat Hidayat.
Sementara itu, perwakilan akademisi adalah Rektor Universitas Sumatera Barat, Nurtati. Adapun perwakilan jurnalis televisi adalah Ketua Umum IJTI Pusat, Herik Kurniawan.
Pemberian penghargaan tersebut menjadi salah satu agenda dalam Musda V IJTI Pengda Sumbar yang tidak hanya membahas pergantian kepengurusan organisasi, tetapi juga mengangkat isu kebencanaan dan peran berbagai pihak dalam penanganannya.
Selain penghargaan, panitia Musda V IJTI Pengda Sumbar menyiapkan talkshow yang membahas penanganan bencana dan kondisi pasca bencana hidrometeorologi.
Forum ini menjadi ruang untuk membicarakan persoalan kebencanaan sekaligus memperkuat peran jurnalis televisi dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, jurnalis televisi diharapkan dapat menjembatani komunikasi antara pemerintah, pemangku kebijakan lingkungan, dan masyarakat yang terdampak bencana.
Ketua Pelaksana Musda V IJTI Pengda Sumbar, Wahyudi Agus mengatakan, kegiatan tersebut dirancang bukan hanya sebagai agenda organisasi, melainkan juga sebagai momentum memperkuat kontribusi jurnalis televisi dalam penyampaian informasi kebencanaan.
"Melalui agenda ini, jurnalis televisi diharapkan dapat memperkuat kontribusi dalam menyampaikan informasi faktual dari lapangan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana, serta membantu membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana," kata Wahyudi Agus, Minggu (25/10/2026).
Menurut Wahyudi, informasi yang disampaikan dari lapangan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami risiko bencana. Karena itu, pemberitaan kebencanaan perlu didukung penyajian informasi faktual yang dapat dipahami publik.
Musda V IJTI Pengda Sumbar sudah berlangsung pada Sabtu (24/10/2026) di mana posisi Ketua IJTI Sumbar periode 2026-2030 kembali dijabat oleh Defri Mulyadi.
Kegiatan tersebut mengangkat tema "Menjadikan Musyawarah Daerah IJTI Pengda Sumbar 2026 sebagai basis evaluasi peran jurnalis televisi dalam menjembatani komunikasi antara pemerintah, pemangku kebijakan lingkungan, dan masyarakat terdampak bencana Sumbar".
Adapun tagline yang diusung dalam kegiatan tersebut adalah "Menembus Batas Bencana, Membuka Mata Dunia".
Pembahasan dalam Musda V IJTI Pengda Sumbar juga diarahkan pada penyusunan strategi kolaboratif untuk memproduksi konten dan dokumenter pascabencana yang kaya visual, edukatif, serta mudah dipahami masyarakat.
Pendekatan audio visual dinilai dapat membantu penyampaian informasi kebencanaan agar tidak hanya berpusat pada saat bencana terjadi.
Dokumentasi setelah bencana juga dapat dimanfaatkan untuk memberikan pemahaman mengenai risiko, ancaman, dan langkah kesiapsiagaan yang diperlukan masyarakat.
Dengan demikian, pemberitaan dan dokumentasi pascabencana diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman publik terhadap potensi bencana yang dapat terjadi kembali.
Strategi tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat Sumatera Barat terhadap ancaman krisis iklim dan bencana hidrometeorologi.
"Penyajian dokumentasi pasca bencana yang kaya visual dan mudah dipahami diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali risiko sekaligus memperkuat kesiapsiagaan," tuturnya.
News Link: