Supreme Energy Dapat Pinjaman Untuk PLTP Muara Laboh

Posted on: February 3rd, 2017 by Relation Staff

Petrominer, 31 Januari 2017

Jakarta, Petrominer — PT Supreme Energy menyatakan akan segera memulai pembangunan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Muara Laboh di Solok Selatan, Sumatera Barat. Ini disampaikan menyusul ditandatanganinya perjanjian pinjaman dari sebuah lembaga keuangan pembangunan pekan lalu.

Supreme Energy melalui anak usahanya, PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML), telah menandatangani Perjanjian Pinjaman pada 26 Januari 2017 dengan konsorsium Lembaga Keuangan Pembangunan senilai US$ 440 juta. Konsorsium itu terdiri dari Japan Bank for International Cooperation, Asian Development Bank (ADB) dengan dana dari Leading Asia’s Private Sector Infrastructure Fund yang diinisiasi oleh ADB, Japan International Cooperation Agency (JICA), serta bank komersial yang terdiri dari Mizuho Bank, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation dengan jaminan dari Nippon Export and Investment Insurance.

Pinjaman tersebut untuk membiayai pengembangan proyek PLTP berkapasitas 80 MW di wilayah kerja panasbumi (WKP) Muara Laboh. Ini merupakan pengembangan tahap pertama dari program eksplorasi dan pengembangan sebesar 220 MW yang direncanakan untuk WKP tersebut.

Untuk mengembangkan proyek ini, Supreme Energy telah menunjuk kontraktor Engineering Procurement Construction (EPC), sebuah konsorsium Sumitomo Corporation dan Rekayasa Industri, dengan peralatan utama yaitu turbin dan generator yang disuplai oleh Fuji Electric. Proyek ini diharapkan akan selesai pada pertengahan tahun 2019, ujar Presiden Direktur Supreme Energy, Supramu Santosa, Selasa (31/1).

Supramu menjelaskan, pengembangan proyek PLTP Muara Laboh ini merupakan hasil dan bukti upaya panjang dan terus-menerus serta komitmen yang kuat dari Supreme Energy dalam pengembangan energi panasbumi di Indonesia. Ini juga merupakan bagian penting dari rencana Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan peranan energi baru terbarukan dalam bauran energi guna mewujudkan ketahanan energi yang berkelanjutan, paparnya.

Menurut Supramu, proyek PLTP Muara Laboh akan membantu membuka wilayah Solok Selatan, Propinsi Sumatera Barat yang masih agak terpencil, dan menyediakan kesempatan kerja kepada sekitar 1.200 orang serta menyediakan kesempatan berusaha kepada para pengusaha lokal selama 30 bulan masa konstruksi.

Listrik bebas emisi CO2 yang dihasilkan oleh pembangkit listrik itu akan mampu menyediakan listrik untuk sekitar 120 ribu rumah tangga, jelasnya.

Di lain lokasi, ujar Supramu, Supreme Energy juga sedang menyiapkan pengembangan 86 MW sumber panasbumi di WKP Rantau Dedap, Sumatera Selatan, setelah menyelesaikan pemboran enam sumur eksplorasi tahun 2016. Ini merupakan pengembangan tahap pertama dari program eksplorasi dan produksi sebesar 220 MW yang direncanakan di WKP tersebut, yang dikelola oleh anak usaha Supreme Energy, PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD).

Melalui PT. Supreme Energy Rajabasa (SERB), Supreme Energy juga tengah menyiapkan program eksplorasi untuk WKP Gunung Rajabasa di wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

SEML dan SERB adalah perusahaan patungan yang terdiri dari Supreme Energy, ENGIE dari Perancis dan Sumitomo Corporation dari Jepang. Sementara SERD adalah perusahaan patungan Supreme Energy, ENGIE dan Marubeni Corporation dari Jepang. (Pris)