Supreme Energy Ajukan Pinjaman ke JBIC & ADB Rp8,2 Triliun

Posted on: November 21st, 2017 by Relation Staff

Petugas melakukan pengecekan instalasi sumur Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi PT Geo Dipa Energi (Persero) unit Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, Senin (24/7). – JIBI/Dwi Prasetya

 

Bisnis.com, JAKARTA – PT Supreme Energy Rantau Dedap tengah menjajaki pinjaman kepada dua bank raksasa Asia, yaitu Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Asia Development Bank (ADB) untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi Rantau Dedap dengan kapasitas 86 megawatt (MW).

PLTP Rantau Dedap terletak di Muara Enim, Sumatra Selatan dan merupakan proyek nasional yang termasuk dalam megaproyek 35.000 MW.

Supramu Santoso, CEO Supreme Energy mengatakan, pihaknya membutuhkan dana Rp8,2 triliun untuk mengembangkan PLTP tersebut. Menurutnya, pihakmya tengah melakukan pembicaraan dengan pihak JBIC dan ADB.

“Supreme saat ini sedang membicarakan dengan beberapa institusi keuangan diantaranya JBIC dan ADB [untuk pengembangan PLTP Rantau Dedap]. Kita baru tahu nanti setelah financial close,” katanya menjawab bisnis, Selasa (21/11).

Proses penjajakan pendanaan tersebut untuk mempersiapkan financial close. Supreme Energy telah melewati proses penandatanganan power purchase agreement (PPA) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Untuk proyek PLTP Rantau Dedap ini, proses penyesuaian harga listrik dan amandemen PPA telah dimulai sejak 2016. Harga jual listrik PLTP tersebut kepada PLN disepakati sebesar US$11,76 cent per kilowatt hour.

Ketetapan harga listrik PLTP tersebut diatur dalam Peraturan Menteri ESDM no 50/2017 tentang Pemanfataan Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Regulasi itu menetapkan harga jual listrik PLTP bisa dengan skema negosiasi B to B antara pengembang dengan PLN.

“Keberhasilan penyesuaian tarif ini merupakan hasil dari negosiasi yang intensif dan konstruktif antara para pihak, yang didorong oleh persamaan tujuan untuk mempercepat pengembangan energi panasbumi sebagai bagian dari energi baru terbarukan di Indonesia,” ujar Supramu.

Supreme Energy juga telah melakukan pemboran enam sumur eksplorasi pada tahun 2015 dan studi kelayakan pada tahun 2016 lalu. Kegiatan eksplorasi itu mengkonfirmasikan bahwa kapasitas yang akan dihasilkan cukup untuk membangun pembangkit listrik dengan kapasitas hingga 86 MW (net) untuk Tahap I (pertama).

Editor : Sepudin Zuhr

Gandeng Supreme Energy, PLN Sepakati Harga Jual Beli Listrik Proyek Panas Bumi Rantau Dedap

Posted on: November 21st, 2017 by Relation Staff

 

JAKARTA – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah menandatangani amandemen Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement/(PPA) untuk Proyek Panas Bumi Rantau Dedap dengan PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). Proyek tersebut berada di Kabupaten Muara Enim dan Lahat, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan.

Adapun amandemen PPA untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Rantau Dedap ini ditandatangani oleh President & CEO SERD Supramu Santoso, dan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir.

“Penandatanganan ini menunjukkan bahwa pemerintah cukup fleksibel dan akomodatif terhadap energi baru terbarukan. Kesepakatan tentang harga listrik untuk Rantau Dedap ini juga merupakan itikad baik pemerintah bagi pengembangan panas bumi,” ujar Supramu dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/11/2017).

Isi amandemen PPA tersebut mencakup penyesuaian tarif yang  merupakan tahapan penting bagi proyek PLTP Rantau Dedap, setelah selesainya pemboran enam sumur eksplorasi pada tahun 2015 dan studi kelayakan pada tahun 2016 lalu. Kegiatan eksplorasi itu mengonfirmasikan bahwa kapasitas yang akan dihasilkan cukup untuk membangun pembangkit listrik dengan kapasitas hingga 86 MW (net) untuk tahap pertama.

Untuk proyek PLTP Rantau Dedap proses penyesuaian harga listrik dan amandemen PPA telah dimulai sejak tahun 2016 dan pada awal November 2017. Dengan disetujui oleh Menteri ESDM.

“Keberhasilan penyesuaian tarif ini merupakan hasil dari negosiasi yang intensif dan konstruktif antara para pihak, yang didorong oleh persamaan tujuan untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi sebagai bagian dari energi baru terbarukan di Indonesia,” imbuh Supramu.

 

Setelah tahapan penyesuaian tarif, SERD akan melaksanakan proses financial close, pemboran eksploitasi, dan konstruksi pembangkit listrik untuk mencapai Commercial Operation Date (COD) pada tahun 2020 mendatang. Listrik yang dihasilkan akan dikirim ke jaringan Sumatera yang dibangun dan dimiliki oleh PT PLN (Persero) berdasarkan PPA selama 30 tahun.

Asal tahu saja, PLTP Rantau Dedap adalah salah satu Proyek Strategis Nasional. Pembangkit ini juga merupakan proyek nasional dan termasuk ke dalam Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW Tahap II berdasarkan Peraturan Presiden No. 04 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 15/2010 jo.01/2012 jo. 21/2013.

“Proyek panas bumi Rantau Dedap mencerminkan upaya yang terus-menerus dan komitmen kuat dari Supreme Energy dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Apalagi, proyek ini merupakan bagian penting dari program Pemerintah Indonesia untuk mendorong porsi energi terbarukan dalam bauran energi untuk mencapai ketahanan energi yang berkelanjutan,” tandasnya.

Feby Novalius, Jurnalis

(kmj)